Langkah Jenderal Gatot Tepat! Bukan Urusan Australia Untuk Menghakimi

rayapos.com - Jenderal Gatot
Foto: tempo

@rayapos.com – Penangguhan kerja sama militer antara Indonesia dan Australia akibat serangkaian pelecehan terhadap simbol dan ideologi negara, menjadi salah satu topik hangat di media lokal Australia.

Sydney Morning Herald, salah satu surat kabar terbesar di Sydney, menyatakan bahwa Jenderal Gatot Nurmantyo memiliki sedikit cinta untuk Australia.

Dalam terbitan hari Kamis (5/1), Sydney Morning Herald bahkan menurunkan berita yang sepertinya memojokkan Jenderal Gatot Nurmantyo. Dalam sebuah artikel analisa yang ditulis oleh Jewel Topsfield berjudul “Why Indonesian General Gatot Nurmantyo Halted Military Ties With Australia”, publik Australia seolah-olah mempertanyakan apa sebenarnya agenda Jenderal Gatot Nurmantyo dalam mengambil keputusan tersebut.

Gatot –dikatakan sebagai seorang jenderal garis keras-, oleh Sydney Morning Herald, disebut merupakan perwira yang memiliki kecurigaan berlebihan terhadap Australia.

Beberapa poin yang dikedepankan oleh koran tersebut antara lain, masalah lepasnya Timor Timur, yang oleh Gatot disebut sebagai bagian dari proxy war Australia untuk mengamankan ladang minyak di kawasan Timor Gap.

Selain itu, Jenderal Gatot juga disebut curiga terkait penempatan pasukan marinir Amerika Serikat di Darwin, yang secara geografis memang sangat dekat dengan wilayah Indonesia.

Selain itu, lewat seorang sumber anonim, dikatakan bahwa Gatot Nurmantyo sengaja memblow up kasus ini, padahal sudah disepakati bahwa apa yang terjadi pada pusat pelatihan komando di Perth tersebut, akan diselesaikan secara tertutup.

Tak hanya itu, kepada Fairfax Media sumber tersebut mengatakan bahwa Jenderal Gatot Nurmantyo memiliki ambisi untuk menjadi presiden atau wakil presiden. Masih menurutnya, sikap Gatot tersebut menyebabkan banyak perwira TNI yang tidak senang terhadapnya.

Menurut sumber koran terkemuka Australia itu, membuka kasus pelecehan ideologi Pancasila merupakan ajang untuk pencitraan Gatot Nurmantyo.

Kalau bukan tidak sopan, pernyataan sumber yang sayangnya oleh surat kabar trersebut dikategorikan sebagai anonim, adalah tindakan yang tendensius, kurang ajar dan memalukan.

Adapun yang sebenarnya, isu untuk menjadi Presiden atau Wakil Presiden, pertama kali dihembuskan ketika pecah demonstrasi massa terkait kasus dugaan penistaan agama yang dilakukan oleh Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).

Ketika itu muncul kabar hoax mengenai pergantian Panglima TNI yang kemudian langsung dibantah oleh Presiden Jokowi.

Tak mempan dengan isu murahan tersebut, muncul lagi hoax bahwa Jenderal Gatot Nurmantyo berambisi untuk menjadi Presiden.

Isu ini pun langsung dijawab dengan tegas oleh Gatot. Dalam acara Indonesian Lawyers Club, Selasa (1/11/16), Panglima TNI menegaskan secara terbuka bahwa semua isu yang beredar itu tidak benar.

“Dalam situasi seperti ini sampai kemarin, Presiden Jokowi ada Pak Tito (Kapolri) diwakili Kapolda Metro Jaya, Presiden Jokowi perintahkan, sekali lagi, beliau sampaikan, sebagai panglima tertinggi, saya perintahkan kepada TNI jaga Bhinneka Tunggal Ika,” kata Gatot.

“Maka beliau (Presiden Jokowi) adalah atasan saya. Saya sebagai umat muslim pernah bersumpah pada 15 Maret 1982, antara lain. Demi Allah saya bersumpah, diatas Alquran nih Pak Karni. Setia kepada Pancasila dan UUD 1945, itu poin pertama,” kata Gatot.

“Ketiga demi Allah saya bersumpah taat kepada atasan dengan tidak membantah perintah atau putusan. Apabila saya berkeinginan jadi presiden maka saya melanggar sumpah saya. Umur saya sudah 56 Pak Karni, kata ustaz bilang, kehidupan dunia hanya sekejap saja. Kehidupan abadi ada disana,” kata Gatot.

“Saya lebih baik jadi tumbal untuk melaksanakan menjaga Bhinneka Tunggal Ika, daripada saya jadi presiden,” tambahnya.

Demikian pernyataan tegas Jenderal Gatot Nurmantyo, menanggapi adanya upaya membenturkan dirinya dengan Presiden Jokowi.

Rupanya, media Australia tidak melihat hal itu. Atau lebih tepat pura-pura tidak tahu.

Hubungan Indonesia Australia memang terjebak dalam banyak pasang surut, ketegangan, serta tensi politik yang tinggi. Pemberitaan oleh Sydney Morning Herald, hanya salah satu upaya dari pihak Australia memancing di air keruh.

Salah seorang sumber koran tersebut, pengamat keamanan Damien Kingsbury, bahkan menyebut Gatot melakukan sesuatu yang aneh. Ia mempertanyakan apakah ada maksud tertentu di balik tindakan Gatot membekukan semua pelatihan militer dengan negaranya.

“Merupakan hal yang aneh,” demikian Kingsbury kepada Sydney Morning Herald.

Sang profesor curiga dan menduga ada “permainan” lain yang sedang dimainkan oleh Panglima TNI.

Jika Australia memang berniat baik untuk menyelesaikan masalah pelecehan terhadap Pancasila, penghinaan terhadap mendiang Jenderal (purn) Sarwo Edhie Wibowo, serta tulisan tentang Papua yang harusnya merdeka karena berlatar belakang melanesia, maka apa yang ditulis Sydney Morning Herald merupakan wujud ketidakseriusan pihak Australia dalam masalah ini.

Di satu sisi, media Australia memang bebas berkoar-koar. Namun di sisi lain, sudah bukan barang baru bahwa media negeri kangguru tersebut dikenal doyan untuk “menyerang” Indonesia lewat pemberitaan versi  mereka.

Dari sisi Indonesia, apa yang dilakukan Jenderal Gatot Nurmantyo harus mendapat apresiasi setinggi-tingginya. Mana mungkin menyimpan dalam karung, jika Pancasila dilecehkan oleh militer negara lain termasuk personel dari Australian Defence Force (ADF).

Pancasila merupaka ideologi bangsa yang harus dibela dengan darah dan nyawa. Gatot akan berhutang moral kepada semua generasi bangsa, jika ia tidak membuka hal ini kepada publik Indonesia.

Kita dilecehkan dan kita harus memberikan respon yang sepadan.

Manuver-manuver Australia dalam merongrong kedaulatan Indonesia harus dihentikan.

Masalah Timor-Timor, tahun 1999 Australia menikam Indonesia dari belakang. Bagaimana tidak, tahun 1975, pihak pemerintah Australia sendiri yang membuat perjanjian bahwa mereka akan menghormati kedaulatan Indonesia atas Timor Timur.

Namun apa yang terjadi, Australia yang memulai, Australia juga yang mengakhiri.

Australia seharusnya berhenti menganggu Indonesia khususnya di dalam isu-isu sensitif seperti Papua. Sikap mendua –jika tidak munafik- dari pemerintah Australia yang seolah-olah selalu mendukung, namun di belakang pemerintah Indonesia mereka terus merongrong, sudah harus dihentikan.

Langkah Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo dalam membuka kasus pelecehan oleh seorang Letnan di dalam tubuh angkatan bersenjata Australia, merupakan salah satu langkah peringatan bahwa kita, Indonesia, tidak akan pernah gentar terhadap berbagai jurus kangguru.

Jika pihak Australia –termasuk media- masih doyan mengutak-atik serta mengomentari miring apa yang dilakukan pejabat Indonesia untuk melindungi kedaulatan negara, sudah sepantasnya kita mempersiapkan langkah yang jauh lebih tegas.

Comments

comments

BAGIKAN