Kuasai Monopoli Rare Earth Element, China Calon Boss Negara-Negara Adidaya

Foto: PakistanTribe

Tersembunyi jauh di area terdingin Kutub Utara, berjarak kira-kira 1400 kilometer Timur Laut wilayah Newfoundleand, terbentang dalam keterpencilan, sebuah padang kutub yang tidak bisa dimasuki siapapun juga. Luas “padang salju” ini sekitar tiga kali luas seluruh Pulau Kalimantan dan hanya 56.000 jiwa saja yang berani mendiami wilayah terpencil itu.

Sekilas, bentangan wilayah ini tidak memiliki arti penting, sehingga tak satupun negara di dunia ini yang peduli dan mau repot-report mengklaim wilayah itu masuk dalam peta negara mereka. Kecuali China.

Padahal, di dalam perut bumi wilayah tersebut terkandung apa yang dinamakan Rare Earth Elements (REE). Dalam bahasa Indonesia, REE diartikan sebagai Logam Tanah Jarang. Kumpulan mineral ini sendiri, di dalam tabel peridoik rumus kimia, berada di nomor atom 57-71.  Sebagian besar cadangan REE dunia kini telah masuk ke dalam teritori China.

Satu fakta mengenai jenis mineral REE ini adalah tekhnologi modern tidak akan bisa muncul atau bertahan, tanpa penggunaan jenis-jenis mineral tersebut. REE sangat krusial bagi dunia tekhnologi dan tak heran jika 17 jenis mineral ini dijuluki “Technology Metals” (Logam Tekhnologi).

Dalam perkembangan dunia automotif, apa yang disebut dengan mobil hybrid kini tengah menjadi primadona berbagai pabrikan ternama dunia. Toyota Hybrid, Honda Civic Hybrid. Jenis ini memerlukan paling tidak 50 kg unsur REE untuk setiap unit mobil.

Sementara di dunia militer, pengembangan berbagai peluru kendali pintar, juga menjadi ujung tombak alutsista negara-negara super power. Sebuah pesawat tempur super canggih dan termahal yang sedang dikembangkan oleh Angkatan Udara Amerika, F-345 Lightning Joint Strike Fighter, ternyata memerlukan paling sedikit setengah ton kandungan mineral REE untuk satu unit pesawat yang siap tempur.

Tiga unsur REE yang terpenting di dunia militer adalah neodymium, dysprosium dan terbium. Ketiga unsur ini sangat vital untuk pengembangan sistem komunikasi, navigasi, sistem senjata laser, satelit mata-mata dan sistem persenjataan optik. Semakin canggih sabuh sistem senjata, semakin banyak unsur REE yang diperlukan.

Lantas di bidang energy, semua sumber pembangkit tenaga baik itu listrik sampai yang menggunakan nuklir, perlu apa yang dinamakan turbin. Semua jenis layar yang kita pergunakan –TV, tablet, laptop, semua jenis peralatan nirkabel dan beragam gadget dengan sistem elektromagnetik. Untuk membuat beragam jenis tekhnologi ini berfungsi, diperlukan unsur-unsur kimia seperti Cerium, Promethium, ataupun Europium, serta 17 jenis REE lainnya.

Sementara dunia ribut dengan berbagai persoalan, China kini sedang menancapkan kukunya di bidang mineral tanah jarang ini. Tidak lama lagi seluruh sudut bumi akan bergantung pada China. Tidak salah jika negeri Tirai Bambu ini memiliki julukan baru, “The Boss of The World”. Kiblat tidak akan berada pada blok Barat, tapi akan berpindah ke “kaum Yahudi kuning”, alias Republik Rakyat China.

Sejak 20 tahun lalu, pemimpin karismatik China, Deng Xiaoping, telah melihat kebutuhan dunia akan REE dan ia tahu persis bahwa negaranya memiliki apa yang dibutuhkan dunia satu saat kelak.

Deng pernah berkata, “Arab punya minyak, tapi China punya mineral tanah jarang.”

Sejak itu, China melakukan apa saja untuk memastikan takdir mereka sebagai boss dunia tercapai. Kini, kita bisa menjadi saksi hidup bagaimana takdir itu menjadi kenyataan.

Tercatat sekarang ini China memproduksi 96,8% dari total produksi REE yang ada di seluruh planet bumi. Mereka memegang hak monopoli elemen yang paling dibutuhkan oleh tekhnologi modern abad 21 dan seterusnya. Dengan persiapan selama puluhan tahun, saat ini China siap untuk memacu eksport mineral REE.

Beberapa waktu lalu, China dengan sengaja menekan jumlah eksport REE ke semua negara. Ketika kebijakan ini dilakukan, ternyata Jepang menjadi negara yang paling menderita. Siapa yang tidak kenal dengan tekhnologi Jepang. Tapi siapa yang pernah menduga bahwa semua tekhnologi Jepang ini ternyata “digerakkan” oleh China?

Toyota dibuat panik ketika China membatasi ekspor REE. Tak heran jika salah seorang pejabat tinggi Jepang, mengatakan bahwa industri Jepang saat itu berada dalam sebuah mentalitas yang dipenuhi dengan rasa panik. Sebabnya adalah, Jepang mengimpor hampir 100%  kebutuhan REE mereka dari China.

Amerika Serikat juga setali tiga uang. Mereka mengimpor 100% kebutuhan REE dari China. Hal inilah yang menyebabkan alarm di Pentagon berbunyi kencang. Ketergantungan Amerika akan China, akan semakin besar di masa yang akan datang.

Lantas apa maksud China membatasi ekspor REE, tentu saja sebagai upaya untuk mengontrol harga mineral-mineral tersebut tetap berada pada level yang “sehat”. Usaha ini sebentar lagi akan berhasil. REE adalah “senjata” China yang paling menakutkan dunia hari-hari ini. Diperkirakan dalam 50 tahun ke depan, dengan perhitungan sangat minimal, produksi REE China jika diuangkan akan menghasilkan 273 triliun dolar.

Jika sudah seperti ini, satu hal yang jelas terlihat adalah dunia bisa saja sedang memasuki era perang dingin yang baru. Aktornya bukan tentu bukan lagi Amerika dan Uni Sovyet. Negara Paman Sam, mungkin akan tetap menjadi boga lakon. Tapi lawan sepadan yang kini dihadapi adalah China.

Sepertinya, China berada pada posisi yang lebih siap untuk memenangkan “perang” .

 

BAGIKAN