Awas, penderita depresi berkepribadian melankolis berpotensi bunuh diri

Founder Psikologi Brilliant Indonesia Jeinner J. Rawung, S.Psi., M.Pd (Foto: Istimewa)

@Rayapos.com | Jakarta: Beberapa waktu lalu, seorang pria sempat menghebohkan jagat media sosial (Medsos) lewat aksi gantung diri yang disiarkan langsung melalui akun Facebooknya. Aksi nekat ini pun mengundang puluhan ribu netizen untuk melihat video tersebut.

Menanggapi hal tersebut, Wakil Dekan bidang Akademik Fakultas Psikologi Universitas Kristen Indonesia Tomohon, Jeinner J. Rawung, S.Psi, M.Pd mengatakan bahwa pria yang melakukan aksi nekat itu biasanya mempunyai kepribadian melankolis dan tengah mengalami gangguan depresi.

“Orang yang berkepribadian melankolis jika mengalami depresi bisa sangat berbahaya, itu bunuh diri. Tipe kepribadian Melankolis biasanya suka mendengar lagu sendu, kalau nonton drama suka terbawa emosional dan menangis,” ungkap Jeinner ketika diwawancara Rayapos di Jakarta, Senin (20/3)

Depresi, menurut Jeinner, bisa diderita siapa saja dan tidak pandang bulu. Pria yang juga bekerja di Rumah Sakit Jiwa Prof. Ratumbuysang ini menduga sebelum memutuskan untuk bunuh diri, orang tersebut awalnya mengalami ambigu.

“Pada tahap ambigu, si pelaku merasa dirinya serba salah. Jadi ada dua sisi dimana ia sulit memilih, akibat dihadapkan pada masalah frustasi, mengalami kebangkrutan, ada cita-cita yang tak tercapai, atau hubungan relasi yang putus seperti percintaan,” tuturnya.

Namun Jeinner menjelaskan bahwa kepribadian melankolis bukan merupakan gangguan jiwa. Awalnya mengalami distres, lalu dipendam dan tertekan hingga depresi. “Orang yang mengalami depresi, biasaya tidak punya semangat lagi dalam menjalani hidup dan merasa sudah tak bisa melakukan apapun,” ucapnya.

Bunuh diri karena depresi, kata Jeineer, juga pernah dilakukan diberbagai belahan dunia seperti Russia. Ia mencontohkan banyak wanita cantik nekat mengakhiri hidupnya. Karenanya, Jeinner menilai orang yang melakukan hal nekat ini tak menutup kemungkinan adalah orang-orang terpelajar.

“Untuk kasus ini pelaku tergolong orang yang terpelajar dan rasional, karena dia paham teknologi. Aksi nekat ini biasanya dipicu rasa ingin mendemonstrasikan perubahan yang terjadi didalam hidup seperti kegagalan rumah tangga atau dari senang kemudian terpuruk,” tukasnya.

BAGIKAN